Assalamu alaikum wr. wb
Bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara kaum muslimin yang kami hormati !
Pada kesempatan ini, patutlah kita memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah yang telah mengaruniakan rohmat, hidayah, inayah sehingga kita semua dalam kesempatan ini dapat berkumpul di majilisan ini dalam keadaan sehat wal'afiat dalam rangka memperingati dan menyambut Tahun Baru Hijriyah.
Hadirin dan hadirat kaum muslimin yang berbahagia !
Sekarang kita memasuki bulan Muharrom, yang berarti kita telah meninggalkan tahun-tahun yang telah lalu, dan berarti kita melangkah ke tahun yang baru (yakni tahun ......... hijriyah). Marilah dalam tahun baru ini kita isi lembaran-lembaran kertas putih dan tinta emas demi kesuksesan dimasa mendatang. Dan marilah kita tengok ke belakang sejenak dalam 1 lembaran-lembaran yang penuh dengan catatan-catatan, jadikan pengalaman dan suri tauladan catatan itu, maka yang baik kita ambil dan mana yang buruk kita buang/singkirkan. Pengalaman adalah guru yang paling baik. Sudah barang tentu pada tahun-tahun yang silam kita mengalami pengalaman-pengalaman yang masni dan lezat.
Dalam suasana tahun baru ini kita semua harus senantiasa berusaha meningkatkan pengabdian kita kepada Allah Ta'ala. Kalau ditahun-tahun yang telah lalu/dimasa silam itu kita masih sering melakukan berbagai kekurangan, maka marilah kita kejar kekurangan-kekurangan itu dengan semangat memperbaiki diri menuju kesempurnaan. Jika dimasa-masa lalu kita masih banyak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, maka marilah pada tahun baru ini kita ganti kemaksiatan-kemaksiatan itu dengan semangat memperbanyak amal kebajikan, amalan-amalan yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kapan kita memperbaiki diri kalau tidak mulai dari sekarang? Janganlah suka menunda-nunda waktu, membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berakhir. Gunakan waktu-waktumu dengan sebaik-baiknya dengan giat bekerja, giat belajar, giat beribadah serta giat dalam membangun negara dan bangsa. Waktu itu adalah ibarat pedang, jika kita tidak bisa menggunakan pedang itu yang akan memenggal leher kita. Juga terdapat kata-kata mutiara: Waktu itu adalah ibarat emas permata.
Bapak-bapak, ibu-ibu serta saudara-saudara sekalian yang kami hormati !
Sudah kita maklumi bersama bahwa umur kita itu masing-masing telah ditentukan ajalnya oleh Sang Maha Pencipta. Ini berarti umur kita bukanlah semakin bertambah, akan tetapi malah sebaliknya semakin berkurang, bergantinya tahun berarti berkurangnya umur kita ini di dunia ini. Oleh sebab itu marilah isi kesempatan hidup kita di dunia ini dengan memperbanyak amal saleh sebagai bekal kita dihari mendatang (yakni setelah kita mati).
Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu kalau besok atau nanti kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru, tetapi siapa tahu kalau tahun depan kita sudah berada di alam kubur.
Sehubungan dengan hal ini ada sebuah riwayat yang menerangkan bahwa pada suatu hari anak Kholifah Umar bin Khattab kembali pulang dari sekolah dengan menangis. Ketika ditanya oleh ayahnya lalu anak itu menjawab: Wahai ayahku, teman-temanku disekolah menghitung-hitung tambalan bajuku dan mengejekku dengan ucapan begini: Lihatlah anak Amirul Mu'minin, bajunya penuh dengan tambalan.
Mendengar pengaduan anak itu timbullah rasa kasihan dalam hati Umar bin Khattab terhadap anaknya. Oleh karena itu beliau mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara yang isinya minta agar beliau dipinjami uang sebanyak empat dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan dipotong. Kemudian bendaharawan negara itu mengirim surat jawaban yang isinya demikian: Wahai Umar, adakah telah dapat memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan? Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu? Apa yang engkau perbuat terhadap hutangmu dihadapan Allah? Membaca surat dari bendaharawan negara itu menangislah Umar, lalu beliau menasehati dan berkata kepada anaknya: Wahai anakku, berangkatlah ke sekolah sebagaimana biasa, karena aku tidak dapat memperhitungkan umurku walaupun sejam lagi!
Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian yang kami hormati !
Demikianlah keterbatasan umur dan siapapun tidak tahu tentang batas umur yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Oleh karena itu marilah kita pergunakan kesempatan hidup di dunia yang serba terbatas ini dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Pesan-Pesan :
Janganlah ditangguhkan pekerjaan hari ini sampai hari esok. Karena waktu itu laksana pedang, jika engkau tidak memotong (dengan pekerjaan) maka ia akan memotong engkau (melenyap hilang).
Demikian sepatah dua kata yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, yakni dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah, semoga ada guna dan manfaatnya. Dan marilah kita sambut tahun baru ini dengan meningkatkan pengabdian kita kepada Allah SWT. Dengan demikian semoga kita dapat termasuk golongan orang-orang yang mensucikan diri dan dimasukkan ke dalam syurga-Nya. Amin
Sekian ihdinash shiroothol mustaqiim. Wabillahit taufiq wal hidayah wassalamu'alaikum wr. wb.
Oleh Drs. Maftuh Ahnan
Assalamu’alaikum wr. wb.
Berkat rahmat Allah swt kita semua dapat berkumpul di gedung madrasah ini dalam keadaan sehat wal ‘afiat, dalam rangka menyambut kedatangan guru baru ibu Dian.
Ibu Dian yang kami hormati, serta Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu guru yang kami cintai.
Kami selaku siswa merasa gembira sekali, bahwa dihari ini telah hadir di tengah-tengah kita seorang ibu guru yang baru, yaitu Ibu Dian sebagai guru Kimia dari Kota Bandung.
Kami selaku siswa juga merasa sangat gembira, karena kami pada saat ini dan mulai hari ini mendapat seorang pendidik lagi.
Kami yakin bahwa Ibu Dian hadir di tengah-tengah kita ini membawa semangat yang baru pula, yang mampu mengarahkan kami, siswa yang kurang tahu dan masih bandel-bandel ini.
Ibu Dian yang kami hormati !
Janganlah ibu nanti terkejut apabila menghadapi kami-kami ini nanti nakal, yang mungkin bagi ibu hal tersebut baru pertama kali ibu jumpai di tempat ini.
Tetapi sebenarnya kami juga bisa menempatkan kenakalan-kenakalan kami. Sebab kami juga menyadari bahwa kami ini sudah besar-besar tentunya perilaku dan tindak tanduk menunjukkan perilaku orang besar, tidak lagi meniru perbuatan kekanak-kanakan. Jadi kenakalan-nakalan kami ini sebenarnya hanya menginginkan sentuhan kasih saying dari bapak dan ibu guru. Selanjutnya semoga Ibu Dian kerasan dan bisa menyatu dengan kami-kami dalam menuntut ilmu di sekolah ini.
Demikianlah sambutan yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, bila ada kekhilafan baik itu kami sengaja maupun yang tidak kami sengaja, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Dan kepada Ibu Dian kami ucapkan “Selamat memasuki dunia pendidikan ditempat kami ini dan semoga ibu mampu menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih harmonis buat kami semuanya.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Oleh Drs. Maftuh Ahnan