Contoh Pidato | Naskah Pidato | Teks Pidato | Tulis Pidato

Pidato Islami: Jihad

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Alhamdulillah wa syukrulillah wa sholatu wa sallamu ‘ala rasulillah sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mawwalah, amma ba’dah.

Yang terhormat pimpinan muhadharah

Yang terhormat para ulama, ustadz dan ustadzah

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah


Segala puji hanya milik Allah semata, Dialah yang selalu memberikan nikmat-Nya kepada kita semua yang begitu banyak, hingga kita tidak sanggup menghitungnya. Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap atas junjungan Nabi kita Muhammad SAW manusia pilihan, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, Izinkanlah Saya berpidato di hadapan saudara-saudara sekalian dengan tema: “Jihad”.

Sesungguhnya tujuan yang paling mendasar bagi kehidupan manusia di dunia ini, adalah untuk mendapat kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Tetapi sebagian dari manusia ada yang melakukan dengan jalan yang tidak mulia dan tidak bersih.

Agar seseorang dalam kehidupan ini bisa mencapai Kebahagiaan yang sejati maka seorang harus berjalan di atas jalan yang benar sesuai dengan syariat Islam. Tetapi disayangkan kebahagiaan orang ada yang terlena akan nasibnya di akhirat kelak dan hanya mementingkan kehidupan dunia dari pada kehidupan yang abadi, mereka rela meninggalkan agamanya yang hak, hanya untuk mengejar kepentingan duniawi.

Ketahuilah saudara sekalian bahwa kebahagiaan abadi adalah kebahagiaan di akhirat kelak. Seseorang tidak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat sebelum beriman kepada Allah dan berjuang dijalan yang benar dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan kan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu Jika kamu mengetahui. "  (QS. As-Shaf: 10-11).

Berkat rahmat dan kelembutan Allah terhadap hamba-Nya, Dia menurunkan ayat sebagai petunjuk untuk berjuang yang menjadi satu-satunya jalan mencapai tujuan kebahagiaan, dan agar terbebas dari siksa yang amat pedih. Karena jika tidak ada petunjuk dan cahaya dari Allah, tentu manusia akan berada dalam kegelapan dan kesesatan. Barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka ia mendapatkan keberuntungan yang besar, tetapi bagi siapa yang berpaling dari petunjuk Allah, maka akan mendapat kerugian yang nyata.

Saudara seakidah yang berbahagia

Jika jiwa dan harta benda dicurahkan untuk berjuang dijalan Allah, maka harus dibarengi dengan iman kepada Allah, karena iman memegang peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia untuk mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu bahagia didunia dan diakhirat.

Saudara-saudara yang berbahagia

Sesungguhnya sesuatu yang sangat penting yang harus dilakukan oleh orang yang berakal dalam hidupnya yaitu, hendaklah rela mengorbankan harta dan jiwa yang dimilikinya untuk berjuang dijalan Allah. Oleh sebab itu,  marilah kita berjuang dijalan Allah dengan jiwa dan harta demi mengagumkan kalimat Allah SWT. Sehingga kalimat Allah SWT tetap eksis dalam ketinggian yang tak tertandingi oleh yang lainnya.

Ketahuilah bahwa orang yang paling merugi di hari kiamat adalah orang yang mempunyai kemampuan berjihad, tetapi tidak mau berjihad dan tidak pernah melibatkan diri sepanjang hidupnya untuk berjihad dijalan Allah SWT. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi:

“Barangsiapa yang mati, sementara ia belum berjuang atau belum pernah melibatkan diri dalam perjuangan, maka ia mati berada dalam suatu cabang dari kemunafikan."

Karena pentingnya jihad, maka Allah SWT menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang jihad. Untuk menjadi motivasi bagi hamba-Nya untuk berjuang dijalan Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan... ".   (QS. Al-Hajj: 78).

Dengan dasar yang jelas dan tidak meragukan ini, sesungguhnya antara jihad dan iman mempunyai hubungan yang kuat yang tidak bisa dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Pekerjaan apa saja atau suatu perjuangan yang tidak didasari dengan iman, maka Allah SWT tidak akan menerimanya.

Saudaraku seakidah yang berbahagia

Berapa banyak orang yang takut akan mati dan enggan untuk pergi ke medan perang untuk berjuang di jalan Allah SWT. Mereka tidak menyadari bahwa kematian pasti akan datang, dan tidak akan lari sedikitpun dari manusia. Jika seseorang tidak mati dengan sabetan pedang dalam Medan Perjuangan, pasti akan mati dengan cara yang lainnya. Sungguh, kita harus berjuang demi keagungan agama Allah SWT. Karena musuh kita sangat banyak yang datang dari berbagai penjuru, baik yang terang-terangan atau dengan rahasia, mereka datang melalui daratan dan lautan. Jangan sampai kita hanya disibukkan bermegah-megahan dalam kelezatan dunia dan permainannya. Marilah kita memperteguh dan memperkuat iman, kita tanamkan Ruhul jihad dalam diri kita dengan sekuat-kuatnya, berjuang dijalan Allah dengan segenap kemampuan agar kita mendapatkan keberuntungan yang besar. 

Inilah Apa yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, mudah-mudahan Allah SWT selalu memberikan pertolongan kepada kita semua untuk tetap berpegang teguh pada komitmen keimanan dan eksis berada di jalan yang diridhai-Nya, Amin. Akhirnya, Terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafannya. 

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir S.Hum

Pidato Islami: Etika Kehidupan Bermasyarakat Dalam Islam

Bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa sholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’iin, amma ba’du.

Yang terhormat dewan guru

Yang terhormat para pembicara

Dan para pendengar sekalian yang berbahagia.


Segala puji hanya milik Allah yang memelihara alam semesta, Dia yang telah menunjukkan kita kepada agama yang lurus (Islam). Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Dia tidak berserikat, Dia mengetahui yang tersembunyi maupun yang tampak. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, yang telah memberantas kebatilan dengan senjata kebenaran, dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Mudah-mudahan Allah memberkati kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya yang selalu berpegang pada tali Allah yang kuat.

Saya bahagia sekali pada kesempatan yang baik ini, bisa menyampaikan pidato di hadapan saudara-saudara sekalian dengan mengambil sebuah tema: "Etika Kehidupan Bermasyarakat Dalam Islam”.

Hubungan sosial sangatlah penting. Bayangkan, jika kita hidup tanpa berhubungan dengan masyarakat kita tidak akan dapat berbuat banyak dalam kehidupan ini. Begitu pula tanpa hubungan dengan masyarakat hidup akan terasa kesepian. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya menyadari bahwa harus ada interaksi sosial dalam kehidupan ini Karena manusia memiliki insting bermasyarakat dia tidak bisa berdiri dikaki sendiri atau berdikari.

Meskipun demikian, sedikit orang yang pandai mengadakan interaksi sosial.Karena mereka menganggap sepele dan tidak penting. Maka mereka tidak bisa berperilaku dengan baik, misalnya dengan memperlihatkan kesombongannya. 

Sebagai agama yang universal menekankan pentingnya etika dalam kehidupan bermasyarakat. Disamping memerintahkan kaum muslimin untuk mengadakan hubungan dengan Allah SWT. Islam juga memerintahkan menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia. Oleh karena itu kita ingin membahas tentang etika kehidupan sosial dalam Islam, dengan bahasa yang singkat.

Pertama, Islam menolak dan tidak membenarkan kehidupan sosial yang berdasar pada ras, warna kulit, keturunan, status sosial, kesukuan dan semacamnya. Rasulullah Muhammad SAW pernah menjadikan Bilal bin Rabah sebagai sahabat karibnya untuk memperlihatkan kepada dunia, bahwa Islam tidak membedakan warna kulit dan ras. Nabi Muhammad SAW juga bersahabat dengan orang-orang miskin yang tidak punya status sosial. Dan beliau bersahabat dengan orang yang berkeyakinan dan beragama lain. Dalam Islam, kita boleh berhubungan dengan siapapun yang beragama lain, asalkan tidak membahayakan keyakinan kita.

Selain itu, Islam juga mengajarkan kepada kita untuk berlaku sopan dan berbicara dengan tutur kata yang baik dan bijaksana. Di lain pihak, Jika ada perselisihan atau salah paham diantara kita, kita harus langsung meminta maaf dan saling memaafkan. Kita harus berlaku terbuka dan membuang semua pikiran negatif terhadap orang lain. Ini adalah sebagian dari kehidupan sosial yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW 

Hadirin dan hadirat yang berbahagia!

Demikianlah pidato singkat saya, mudah-mudahan ada guna dan manfaatnya. Apabila ada kesalahan saya mohon maaf yang sebanyak-banyaknya, dan atas segala perhatiannya saya ucapkan terima kasih, mudah-mudahan Allah Yang Maha Kuasa memberkati acara kita. Billahitaufiq walhidayah, Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir S.Hum

Pidato Islami: Kematian

Alhamdulillahil wahidil ahad, aladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwwan ahad, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruhu, allahumma sholli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum ila yaumil qiyamah, amma ba’du.

Yang terhormat ketua muhadharah

Yang terhormat para pembicara

Saudara-saudara sekalian yang saya cintai


Kita bersyukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat-Nya yang begitu banyak kepada kita, sehingga pada saat ini kita bisa mengadakan pertemuan di tempat yang berkah ini.

Kedua kalinya saya sampaikan banyak terima kasih kepada pembawa acara yang telah memberikan kesempatan yang berharga ini kepada saya untuk berbicara di hadapan saudara-saudara sekalian.

Saudara dan saudari sekalian yang berbahagia

Saya berdiri disini akan menyampaikan pidato dengan sebuah tema yaitu: “Kematian”.

Ingatlah saudara-saudara apa yang telah di firmankan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Quran Surat Al An'am ayat 32:

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh Kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa."   (QS. Al An’am: 32).

Ketika kita memperhatikan realitas kehidupan di sekitar kita, tentu kita akan menemukan berbagai macam perkara, di antaranya adalah kenikmatan dan kesenangan duniawi, yang hanya bersifat sementara dan senda gurau belaka, yang banyak mengakibatkan seseorang lalai akan Tuhan Yang Maha Agung. Mereka hanyut dalam kesenangan dunia yang semu sementara mereka lupa akan Tuhannya, karena mereka hanya berlomba dalam hal keindahan dunia saja. Untuk mencapai apa yang dikehendaki, mereka tidak memperdulikan antara yang hak dan yang batil, antara halal dan haram. Mereka melupakan kematian yang pasti akan terjadi, mereka terus menerus melakukan kerusakan, tanpa mau berpikir terhadap sesuatu yang pasti akan datang yang terus mengintainya dan hendak menjemputnya, yaitu kematian. 

Hadirin dan hadirat yang berbahagia

Banyak Orang beranggapan, bahwa ia akan hidup terus, dan dapat menikmati  kenikmatan dunia selamanya. Padahal sesungguhnya kematian, tidak akan melalaikan manusia, walaupun seseorang memiliki harta yang melimpah, bangunan yang kokoh dan megah. Itu semua hanyalah sebagai ujian bagi mereka.

Sang pencipta alam ini memberikan gambaran dalam Al-Qur’an:

“Bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar."  (QS. Al-Anfal: 28).

Disamping itu, setiap orang pasti akan merasakan kematian yang mana akan mengakhiri semua urusan duniawi, dan pekerjaan rutinitas setiap hari. Kematian akan mendatangi setiap orang tanpa memberitahu sebelumnya. Kematian adalah ibarat sebuah gelas yang berisi minuman, yang setiap orang pasti akan meneguknya. Seorang penyair berkata:

“Siapa saja yang akan mati waktu mudanya pasti mati masa tuanya. Kematian adalah ibarat gelas dan setiap orang merasakannya."

Dari sini hendaklah kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak amal sholeh sebelum ajal datang menjemput, dan minta ampunlah kepada Allah SWT dari segala dosa yang kita lakukan. Bukankah kematian datang tanpa memberitahu? Sungguh, wahai saudaraku, bahwa setiap manusia ketika datang kematian tidak ada tempat untuk berlari, untuk menghindar dan bersembunyi. Allah SWT berfirman:

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."  (QS. An-Nisa’: 78).

Karena itu saudara-saudari sekalian, bahwa apa saja yang kita perbuat, kita adalah lemah, tidak ada daya dan tidak ada kekuatan dari manapun yang bisa mencegah datangnya kematian. Allah SWT telah menetapkannya bagi kita semua, kita tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya pasrah kepada Allah SWT ketika datang kematian dan minta pertolongan kepada-Nya dari segala siksa yang menimpa kita di alam kubur. 

Orang yang disiksa di dalam kubur adalah orang yang sewaktu hidupnya hanya dihiasi dengan dosa dan permusuhan, tidak menghiasi hidupnya dengan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Saudara dan saudari sekalian yang dirahmati Allah

Kiranya Cukup sekian saja apa yang dapat saya sampaikan di hadapan saudara-saudara sekalian, mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Terakhir, mohon maaf atas segala yang kekilapan dan kesalahan saya. 

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir S.Hum

Pidato Islami: Mencari Rezeki Yang Halal

Alhamdulillah hilladzi akramnaa bil iimaan, wa a’azzanaa bil islam, wa rafa’na bil ihsan, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruh, allahumma shollia wasallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mantabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin, amma ba’du.

Yang terhormat pimpinan sekolah

Yang terhormat para alim ulama, ustadz dan ustadzah

Yang berbahagia para hadirin sekalian


Mengawali pidato pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak para hadirin sekalian, untuk mengucapkan syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita semua, sehingga pada kesempatan yang berbahagia ini, kita bisa bertatap muka dan saling bersilaturahim, mudah-mudahan kita mendapat Ridha dari Allah SWT. Amin. Selanjutnya Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada ada utusan-Nya yang terkasih, yaitu Muhammad SAW juga pada keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai hari kemudian.

Saya berdiri disini akan menyampaikan ceramah dengan mengambil tema: “Mencari Rezeki Yang Halal”.

Sering kita temukan dalam pergaulan sehari-hari orang mengeluh dalam mencari penghidupan, lantaran sulitnya lapangan pekerjaan atau mungkin tidak adanya modal untuk usaha. Sehingga banyak orang yang tidak memperhatikan yang halal dan yang haram. Apa saja ditempuh asalkan mendapat uang, tidak lagi memperdulikan aturan-aturan agama. Malah kadang ada yang berdalih: "Apalagi mencari yang halal, yang haram saja sulit dicari". Dan lain sebagainya.

Alangkah memperhatikannya, kalau dalih seperti itu dipegangi dalam mencari rezeki sehari-hari. Padahal kita tahu energi yang kita miliki diberikan oleh Allah lantaran makanan dan minuman yang kita konsumsi, lantas diproses dalam tubuh yang akhirnya menjadi energi. Dan dengan energi itu kita dapat melakukan aktivitas. Kalau begitu halal dan haramnya barang yang kita masukkan ke dalam perut sangat berpengaruh sekali pada gerak dan sikap kita sehari-hari. Apabila sesuatu yang kita makan itu berupa barang yang halal, kemungkinan besar akan mudah dan ringan melaksanakan ibadah dan kebajikan. Sebaliknya bila yang kita makan itu barang yang haram, sangat boleh jadi hanya akan menggerakkan kita melakukan kemaksiatan dan kemungkaran. Maka pantaslah Rasulullah SAW memperingatkan bahwa daging yang tumbuh dari barang yang haram itu tempatnya nanti di neraka.

Saudara-saudara seiman dan seakidah!

Lantas apa saja yang termasuk dalam kategori barang yang haram itu? Secara garis besar, barang yang haram itu ada kalanya barang itu diharamkan oleh agama seperti minuman keras babi, anjing dan lain-lain sebagainya. Adakalanya sebenarnya barang itu halal dimakan tetapi bisa jadi haram karena diperoleh dengan jalan yang dilarang oleh agama. Seperti barang curian, barang hasil korupsi, judi, hasil mengurangi takaran atau timbangan, dan lain-lain sebagainya, maka jadi haram pula barang tersebut. Daging ayam pada asalnya adalah halal dimakan, akan tetapi jika hasil curian, maka jadi haram lah daging tersebut untuk dimakan. Begitu juga barang yang dibeli, atau apa saja itu dibeli dari uang hasil korupsi, atau judi, maka barang tersebut pun akan haram dimanfaatkan. Dan suatu yang diperoleh dari yang haram, bila dimakan akan menghasilkan energi, dan energi itu hanya akan menyeret pelakunya ke dalam api neraka. Bagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’, ayat 10:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perut mereka, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)". (QS. An-Nisa’: 10).

Ayat di atas menegaskan bahwa makan harta anak yatim dengan cara aniaya yang dilarang agama itu akan menyeret pelakunya ke dalam neraka Sa’ir. Juga dijelaskan dalam surat Al-Muthaffifin, ayat 1-3:

“Kecelakaan besarlah bagi orang yang curang yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Menimbang untuk orang lain mereka mengurangi". (QS.Al Muthaffifin: 1-3). 

Begitulah perbuatan menakar atau menimbang akan menjadikan pelakunya masuk ke dalam neraka Wail. Dan masih banyak lagi cara-cara yang dilarang oleh agama yang diterangkan baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Hadis Nabi.

Saudaraku seakidah yang dirahmati Allah!

Bagi kita yang telah berkeluarga dan bertanggung jawab atas nafkah anak istri, seharusnya berusaha agar jangan sampai melakukan cara-cara yang diharamkan oleh agama. Naskah yang kita berikan kepada mereka harus kita usahakan dari sesuatu yang halal dan dengan cara yang halal pula. Kasihan mereka bila ikut menanggung resiko dari perbuatan kita yang melanggar aturan agama. Mungkin mereka tidak tahu dari mana kita peroleh sesuatu yang kita berikan kepada mereka. Namun sekalipun mereka tidak tahu, tentu akan merasakan akibatnya pula. Tidak mungkin barang yang haram akan mengarah kepada kebaikan, namun tentu akan akibat sebaliknya yaitu akan mengajak kepada kemaksiatan dan kemungkaran.Sesuatu yang haram akan menjadikan gelap dan kerasnya hati, sehingga sulit diajak kepada kebajikan dan menerima kebenaran. Alangkah ironisnya jika hal itu menimpa diri kita dan anak istri kita. Setiap nasehat dan peringatan agama tidak bisa menembus hatinya. Karena hati telah keras bagai batu, atau bahkan lebih keras dari padanya.

Hadirin yang berbahagia!

Oleh karena itu, mari kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang halal. Kita tahan dan kita tekan hawa nafsu yang mengajak kita untuk tidak menghiraukan aturan-aturan agama. Sebab semuanya untuk kita juga. Sesuatu yang baik dan halal akan menghasilkan kebajikan dan sesuatu yang haram akan menimbulkan kemaksiatan dan kemungkaran. Kebajikan akan dibalas oleh Allah dengan pahala, sebaliknya kemungkaran akan dibalas dengan dosa. Allah adalah Maha Tahu terhadap segala perbuatan hamba-Nya. Apabila kita mau bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar Taqwa, dengan menjalankan apa yang diperintahkan serta menjauhi segala yang dilarang maka Allah akan membebaskan kita dari kesulitan. Allah SWT berfirman:

"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusannya". (QS. Ath Thalaq: 4).

Dan Allah juga berfirman:

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya".  (QS. Ath Thalaq: 2-3).

Demikian uraian dari saya, bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati, saya mohon maaf yang sebanyak-banyaknya. Akhirnya, Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir S.Hum

Pidato Islami: Meneladani Rasulullah SAW

Alhamdulillah wa syukrulillah wa sholatu wa sallamu ‘ala rasulillah sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mawwalah, amma ba’dah.

Yang terhormat ketua muhadharah

Yang terhormat pembawa acara

Para orator yang berbahagia


Hadirin dan hadirat yang saya cinta

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak hadirin sekalian terutama pada diri saya sendiri untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan itu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya serta menyukuri semua kenikmatan dan karunia yang diberikan kepada kita dengan menggunakan dan menyalurkannya pada jalan yang diridhai oleh-Nya. Dengan demikian, Semoga kita senantiasa mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, amiin.

Saudara dan saudari sekalian yang berbahagia!

Saat ini kita telah memasuki bulan ke-3 tahun 14...H  bulan yang mulia, bulan yang banyak terjadi peristiwa bersejarah bagi umat Islam, yaitu bulan Rabi’ul Awal. Peristiwa yang terjadi pada bulan itu, antara lain adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW., peristiwa hijrah dan juga peristiwa wafat beliau. Ketika peristiwa itu terjadi dalam bulan Rabi’ul Awal. Dengan demikian, sebaiknya peringatan pada bulan ini tidak dititik beratkan pada satu peristiwa saja, maulidyah misalnya, akan tetapi bersifat menyeluruh, untuk memetik pesan dan teladan dari perjalanan hidup Rasulullah SAW serta jihad perjuangannya dalam menegakkan agama Allah di muka bumi ini.

Memang kehadiran beliau dan diutusnya sebagai Rasul merupakan kenikmatan yang amat besar dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Dunia yang dulunya gelap kini terang dengan Cahaya Islam yang dibawanya. Kekufuran dan kemusyrikan berubah dengan ketauhidan ilahiyah. Kejahiliahan berganti dengan tatanan syariat Islam yang diridhai oleh Allah SWT. Perpecahan dan permusuhan bersalin dengan persatuan yang kuat dengan ukhuwah Islamiah. Keputusasaan dan kenistaan beralih menjadi kesemangatan dan kebahagiaan bagi dunia maupun akhirat. Syukurlah bagi kita yang mendapat petunjuk dan pertolongan Allah SWT. sehingga kita dapat percaya dan membenarkan ajaran yang dibawa beliau. 

Saudara-saudari sekalian yang berbahagia

Pada bulan Rabiul awal seperti ini, perlu sekali kita adakan suatu acara untuk memperingati peristiwa-peristiwa bersejarah seperti yang telah saya sampaikan, guna menggali kembali dan mempelajari nilai-nilai luhur yang terdapat dalam sejarah kehidupan Beliau juga jihad perjuangannya dalam menegakkan agama Allah. Peringatan semacam ini merupakan kesempatan yang baik dan besar manfaatnya. Suatu tradisi keagamaan yang sudah berabad-abad yang lalu diselenggarakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hanya saja, peringatan dan kebiasaan yang baik seperti ini jangan sekali-kali di nodai dengan kemaksiatan dan kemungkaran.

Peringatan semacam ini menjadi syiar Islam dan seharusnya diisi dengan kegiatan yang Islami, kegiatan yang yang sesuai dengan aturan syariat Islam, kegiatan yang diridhoi oleh Allah SWT. bukannya kemaksiatan dan kemungkaran yang menonjol seperti mabuk-mabukan, hura-hura atau bercampurnya lawan jenis yang jelas dilarang oleh agama. Hal yang demikian ini dapat menutup tujuan asalnya, penggalian kembali nilai-nilai luhur dalam sejarah kehidupan dan perjuangan beliau, juga manusia kan Islam dapat terhapus dan tidak berbekas sama sekali. Dan yang memprihatinkan,  disangkanya berbuat amal saleh, namun nilai kesalahannya tidak ada, atau kemaksiatan yang dibungkus dengan kemasan kebajikan.

Saudara dan saudari sekalian yang berbahagia!

Dalam menyelenggarakan suatu upacara atau acara peringatan hari-hari besar Islam khususnya, sebagaimana yang diadakan di mana-mana, hendaknya tidak hanya berupa apa perayaan biasa tanpa pesan dan kesan yang bermanfaat dalam pembangunan umat. Sebaliknya, kesempatan yang berharga itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan seefektif mungkin guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat,  menyebarkan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW, sehingga masyarakat dapat mengetahui dan memahami ajaran yang sebenarnya, dan pada akhirnya mereka diharapkan dapat mengamalkannya serta meneladani peri kehidupan beliau. Sebab memang beliau lah sosok dan suri teladan yang patut dan wajib kita ikuti. Seperti tersebut dalam surah Al-Ahzab, ayat 21 :

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan bagimu yang baik (yaitu)  orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari akhir dan banyak mengingat Allah."  (QS. Al-Ahzab: 21).

Ayat di atas menjelaskan bahwa suri teladan yang baik bagi umat Islam adalah yang terdapat dalam diri Rasulullah SAW. Keteladanan beliau mencakup segala aspek kehidupan. Mulai dari dalam diri sendiri, dalam keluarga, dalam bertetangga, bahkan sampai berpolitik dan bernegara. Lebih-lebih dalam hubungan hamba kepada Tuhannya. Di ayat lain dijelaskan lagi dengan lebih tegas seperti tersebut dalam surah Ali Imran, ayat 31:

“Katakanlah: Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."  (QS. Ali Imran: 31).

Saudara dan saudari sekalian yang berbahagia!

Bagaimana agar kita dapat meneladani peri kehidupan Rasulullah? Tentu pertama kita harus tahu siirah beliau. Yaitu perjalanan hidup beliau sehari-hari dan perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam. Hal ini dapat diketahui dengan membaca buku-buku atau kitab-kitab atau melalui pengajian-pengajian ceramah-ceramah agama. Pengetahuan tentang siirah Rasulullah dan tarikh Islam sangatlah penting bagi umat Islam, karena dari situlah nantinya keteladanan yang dapat kita ambil. 

Hubungan keteladanan yang baik ini, kita masih perlu prihatin dengan kondisi kita umat Islam sendiri. Lantaran masih banyak umat Islam yang miskin pengetahuan tentang siirah Nabi, sehingga keteladanan yang baik sulit kita dapatkan. Dan yang lebih memprihatinkan lagi  karena kurang adanya keteladanan yang baik dari tokoh-tokoh umat Islam sendiri, sehingga tidak sedikit diantara kita ada yang meniru dari keteladanan yang mestinya tidak pantas atau bahkan bertentangan dengan Islam. Terlebih pada era globalisasi seperti saat ini, apa yang terjadi di belahan bumi barat dapat kita lihat saat ini pula di belahan bumi bagian timur. Begitu cepatnya informasi tersebar di seluruh penjuru dunia jarak yang jauh bukan menjadi hambatan lagi untuk sampainya informasi. Dengan semakin majunya teknologi dan ilmu pengetahuan perubahan dunia pun sangat cepat. Sarana dan prasarana semakin mudah, namun kemudahan dan kemudahan yang terjadi tidak selalu berdampak positif. Sebab produk-produk teknologi bersifat netral, tergantung pada manusianya yang menggunakan produk tersebut.

Untuk mengimbangi perubahan dunia yang melaju dengan cepatnya, kita umat Islam perlu mengadakan pembenahan ke dalam, pembenahan dengan menggali dan merumuskan nilai-nilai Agama Islam serta mentransformasikan ketengah-tengah masyarakat dengan bijaksana. Di dalam sejarah Islam banyak sekali mutiara-mutiara yang apabila kita mampu dan mau menggali serta merumuskannya dengan baik, akan menjadi pengarah dan sekaligus merupakan materi pembangunan menuju perubahan ke arah masa depan yang lebih cemerlang dan Islami. Rasulullah SAW dan para sahabatnya telah membuktikan dengan berbekal ajaran Islam mampu merubah kawasan Mekkah dan sekitarnya dari era kegelapan dan kebodohan menjadi terang benderang penuh kedamaian kemajuan baik lahir maupun batin. Jadi jelaslah keteladanan pada perikehidupan Nabi dan para Ulama pewaris Nabi sangat perlu kita lakukan.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, semoga bermanfaat. Ada kurang lebihnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Akhirnya, wallahul muwaffiq ilaa aqwaamit thariq.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir, S.Hum

Pidato Islami: Menjaga Amanat

Alhamdulillah wa syukrulillah wa sholatu wa sallamu ‘ala rasulillah sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mawwalah, amma ba’dah.

Yang terhormat Saudara protokol

Yang terhormat para ulama, ustadz dan ustadzah


Saudara dan Saudari yang tercinta

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Tuhan semesta alam.  Shalawat dan salam Semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. sebab beliau kita yang telah ada di bibir jurang neraka dapat terselamatkan dari padanya.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, Izinkanlah saya berpidato dihadapan saudara-saudari sekalian dengan tema: “Menjaga Amanat”.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Sebagai orang yang beriman, kita berkewajiban menjaga dan memelihara amanat dengan yang sebaik-baiknya. Menjaga Amanat merupakan sifat para malaikat Muqarrabin, para nabi dan rasul serta menjadi ciri khas orang-orang yang baik dan bertakwa. 

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya."  (QS. An-Nisa’: 58).

Menurut para ahli tafsir ayat tersebut mengandung banyak hal dari pokok-pokok syari’at Agama. Ayat tersebut bersifat umum mengenai seluruh orang mukallaf baik yang menjabat sebagai pengusaha maupun yang tidak. Adalah menjadi kewajiban bagi penguasa untuk melakukan pembelaan dan berlaku adil terhadap orang yang teraniaya dan menjelaskan hak-haknya, yang demikian itu adalah amanat. Menjaga harta kaum muslimin, terutama harta anak yatim. Para ulama berkewajiban mengajarkan hukum-hukum agama kepada manusia secara umum ini juga merupakan amanat yang harus dijaga oleh mereka dan menjadi prioritas utama yang harus ditunaikannya. Orang tua berkewajiban menjaga anaknya dengan memberikan pendidikan sebaik-baiknya, ini adalah amanat baginya. 

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan! 

Nabi bersabda: 

“Tidaklah ada Iman bagi orang yang tidak dapat dipercaya terhadap amanat yang diembannya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak dapat menepati janji."

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Setiap orang dari kamu sekalian adalah sebagai pemimpin, dan setiap orang dari kalian semua adalah akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya."

Di dalam Kitab Zahru Riyadh diterangkan, bahwa pada hari kiamat kelak, setiap orang akan didatangkan dihadapan Allah SWT. Kemudian Allah SWT berfirman: “Apakah kamu telah menyampaikan amanat si Fulan?" Dia menjawab: "Tidak, Ya Tuhanku. "Lalu Allah SWT. memerintahkan kepada seorang malaikat, memegang tangannya dan melemparkannya ke dalam neraka jahanam. Lalu matanya diperlihatkan terhadap amanat yang ada di jurang neraka jahanam. Maka Ia turun hendak mengambil amanat itu selama tujuh puluh tahun, sehingga ia sampai di kedalaman jurang itu. Sesampainya di atas, kakinya terpeleset sehingga ia jatuh ke dalam lagi dengan membawa amanat itu, ia naik lagi dan jatuh lagi, begitu seterusnya sehingga belas kasihan Tuhan berkenan menghampirinya, melalui syafa’at Seorang Nabi terpilih, Muhammad SAW. Akhirnya si pemilik amanat tersebut merelakannya.

Beliau juga bersabda: “Sampaikan amanat kepada orang yang mempercayakan nya kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu."

Rasulullah  SAW juga bersabda: “Umatku akan senantiasa dalam kebaikan, selama tidak memandang amanat sebagai keuntungan dan sedekah sebagai kerugian."

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Demikian materi yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, Semoga kita benar-benar menjadi muslim yang senantiasa memelihara dan menjaga amanat dengan yang sebaik-baiknya. Akhirnya terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kesalahan, dan kurang lebihnya. Wallahul muwafiq Ilaa aqwamith thariq.Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir, S.Hum

Pidato Islami: Hak-Hak Sesama Muslim

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Alhamdulillah wa syukrulillah wa sholatu wa sallamu ‘ala rasulillah sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mawwalah, amma ba’dah.

Yang terhormat pimpinan muhadharah

Yang terhormat para pembicara

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah.


Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kali ini, pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah,Tuhan sekalian alam yang telah melimpahkan anugerah dan nikmat-Nya kepada kita semua, sehingga pada kesempatan ini kita bisa  bermuwajahah di tempat yang megah ini.

Shalawat dan salam, Semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW. Sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia!

Sebagaimana dijelaskan di dalam hadis Nabi SAW dan perkataan para sahabat (atsar), bahwa hak-hak sesama hamba Allah SWT itu di antaranya adalah mengucapkan salam bila bertemu; perkenankan (sambutlah) undangannya jika mengundangmu; Doakanlah dengan mengucapkan kan yarhamukallah; bila ia bersin; jenguklah bila sakit; saksikanlah jenazahnya Jika ia meninggal dunia; perbaikilah sumpahnya jika bersumpah merugikan kamu; berilah nasehat jika meminta kamu nasehat; jagalah kehormatannya bila ia tidak berada di sisimu; Cintailah ia sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri; hendaklah kamu tidak menyukai terjadinya sesuatu padanya,  bila kamu membenci (tidak suka) akan terjadinya sesuatu itu pada dirimu.

Anas ra  meriwayatkan dari Nabi SAW sesungguhnya beliau bersabda: "Di antara hak-hak orang Islam terhadap kamu ada empat, yaitu: Hendaklah kamu membantu mereka yang berbuat baik; hendaklah kamu memohonkan Ampun mereka yang berbuat dosa; hendaklah kamu memanggil mereka bila mereka berpaling darimu; hendaklah kamu mencintai mereka yang bertobat".  

Hadirin yang berbahagia!

Di samping hal tersebut, diantara hak-hak sesama muslim, ialah:

Pertama: Hendaklah seseorang mencintai orang yang beriman, sebagaimana Ia mencintai dirinya sendiri, dan membenci sesuatu yang tidak disukainya terjadi padanya, sebagaimana kebenciannya bila sesuatu itu terjadi pada dirinya sendiri.

Nu’man bin Basyir berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

"Perumpamaan orang yang beriman, di dalam saling mengasihi dan menyayangi diantara mereka, bagaikan satu tubuh, ketika salah satu anggota tubuhnya Ada yang sakit, anggota-anggota tubuh yang lainnya menjadi terdorong ikut merasakan sakit dan terjaga".

Abu Musa meriwayatkan, dari Nabi SAW beliau bersabda:

“Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain, bagaikan satu bangunan yang saling kuat menguatkan satu sama lain".

Kedua: Hendaklah seseorang tidak menyakiti orang-orang Islam, baik dengan perbuatan maupun dengan perkataan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Orang muslim, ialah orang yang dapat membuat kaum muslim merasa aman dari lidah dan tangannya".

Nabi SAW bersabda: "Tahukah kamu, Siapakah orang Islam itu? " Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui". Beliau bersabda: "Orang Islam itu ialah orang yang dapat membuat orang-orang Islam merasa selamat dari gangguan lidah dan tangannya." Mereka bertanya: "Lalu siapakah orang yang beriman itu?" Beliau bersabda: " Yaitu, orang yang dapat membuat aman orang-orang Mukmin baik jiwa maupun harta mereka". Mereka bertanya lagi: "Siapakah orang yang berhijrah itu? " Beliau bersabda: " Orang yang berhijrah dari kejahatan, lalu menjauhinya".

Nabi SAW bersabda: "Tidak halal bagi orang Islam, mengisyaratkan pandangan yang menyakitkan bagi saudaranya sesama muslim". Nabi SAW. bersabda: "Tidak halal bagi orang Islam mengejutkan orang Islam dengan keterkejutan yang tidak baik".

Hadirin yang berbahagia!

Ketiga: Hendaklah kamu tidak mendiamkan (tidak mau menyapa)  orang yang dikenalnya melebihi 3 hari, sekalipun kamu membencinya. Abu Ayyub Al-Anshari berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak halal bagi sesama muslim, memutus (hubungan dan tidak menegur sapa) saudaranya (sesama agama) lebih dari tiga hari". 

Keempat: Tidak mengintai atau berusaha mendengarkan rahasia (nguping) sebagian atas sebagian yang lain, dan tidak pula menyebarluaskan apa yang didengarnya dari sebagian kepada sebagian yang lain. Nabi SAW bersabda: "Tidak akan masuk surga tukang adu domba atau penfitnah".

Kelima: Hendaklah kamu bersikap tawadhu dan tidak sombong terhadap setiap orang Islam. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Diriwayatkan dari Abi Aufa, sesungguhnya Rasulullah SAW bersikap tawadhu’ kepada setiap orang Islam. Beliau tidak menghina dan tidak pula sombong serta tidak merasa malu berjalan bersama dengan janda dan orang-orang miskin, sehingga beliau dapat menyampaikan keperluannya, dan mereka pun merasa puas."

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT memberikan Wahyu kepadaku: Hendaklah kamu bersikap tawadhu’, sehingga seseorang tidak merasa sombong atas orang lain. Kemudian Bila seseorang bersikap sombong kepada yang lain hendaklah ia bersabar."

Hadirin yang berbahagia!

Mengakhiri pidato yang saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-nya serta petunjuk-Nya kepada kita. Demikianlah yang dapat saya sampaikan, akhirnya terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kesalahannya. 

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir S.Hum

Pidato Islami: Riya

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, arrahmanirrahim maliki yaumid din, wa shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin khatamin Nabiyyina wa imamil mursalin, wa ‘ala alihi thahiriina wa shahabatihi ajma’in, amma ba’du.

Yang terhormat pimpinan muhadharah

Yang terhormat para alim ulama

Dan saudara-saudaraku sekalian yang tercinta


Dalam kesempatan yang berbahagia ini, tiada kata yang pantas untuk kita ucapkan, kecuali ucapan syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT. Karena dengan Hidayah dan Taufik-Nya kita bisa bertemu bersilaturahmi di tempat ini dalam keadaan sehat wal afiat tanpa ada suatu halangan apapun. Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap atas junjungan kita Nabi yang agung, Muhammad SAW yang senantiasa kita harapkan syafaatnya nanti di hari kiamat.

Tidak lupa saya sampaikan banyak terima kasih kepada saudara pembawa acara, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara di hadapan saudara-saudara sekalian dalam rangka ikut berpartisipasi dalam acara ini, untuk menyampaikan pidato dengan mengambil sebuah tema: “RIYA”.

Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah

Riya’ adalah suatu penyakit hati, yang biasa menjangkiti sebagian besar manusia, baik dalam beramal dan dalam perkataan, maka orang yang berbuat riya’ lahiriahnya berlawanan dengan yang ada di dalam hatinya. Hatinya rusak dan niatnya menjadi jelek, karena melakukan amal yang baik tanpa didasari dengan hati yang ikhlas. Secara lahiriyah ia beramal kebaikan, tetapi pada hakekatnya dia hanya beramal untuk dipertontonkan pada orang lain, biar dipuji orang dan sebagainya.

Dalam hal ini Islam memberi peringatan terhadap terjadinya penyakit hati (riya’). Allah berfirman:

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (dan) orang-orang yang berbuat riya’, dan enggan (menolong dengan)  barang berguna. "  (QS. Al-Ma’un: 4-7).

Ayat tersebut memberikan peringatan keras kepada orang yang berbuat riya’, karena orang yang berbuat riya’ dalam beribadah akan celaka di akhirat nanti, bahkan Rasulullah SAW sangat mengkhawatirkan terhadap umatnya yang terjerumus dalam perbuatan riya’, sebagaimana sabda beliau:

“Nabi bersabda: ‘Sesuatu yang paling aku takuti atas umatku adalah Syirik kecil. "Maka ditanyakan kepada beliau: ‘Apakah Syirik kecil itu.’ Nabi menjawab:  ‘Riya’.”

Sahabat Ali Bin Abi Thalib ra memberikan keterangan tentang tanda-tanda orang yang berbuat riya’, sebagai berikut:

"Ali Bin Abi Thalib ra mengatakan bahwa tanda-tanda orang yang berbuat riya’ ada 3, yaitu malas beramal bila sendirian, giat beramal bila banyak orang, jika dipuji semakin giat beramal, dan amalnya berkurang jika di cela."

Pada suatu ketika sahabat Umar ra  melihat orang yang sedang menjalankan salat, dan dia sambil menundukkan lehernya maka Umar menegurnya: "Hai orang yang punya leher angkatlah lehermu, bukankah khusyu’ itu ada di leher tetapi khusyu’ itu ada dalam hati.

Dari penjelasan sahabat Umar ra ini bisa dipahami bahwa, khusyu’ itu tidak akan harus ditampakkan pada sikap ketika beramal, apalagi dibuat-buat biar dilihat orang, Dan inilah barangkali banyak orang melakukannya, tidak hanya Amalan Salat saja, tetapi amalan yang lainnya sering terjadi melanda umat Islam yang kurang memahami tujuan ibadah. Karena itu Rasulullah SAW sangat khawatir terhadap perilaku semacam ini, jika melanda umatnya, karena menjadikan amalnya tidak diterima oleh Allah.

Dari uraian yang sangat singkat ini, kiranya kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa perbuatan riya’ adalah sesuatu amalan yang dapat merusak amal baik kita, bahkan dengan berbuat riya’, kita sudah memasuki wilayah Syirik walaupun kategori kecil, dan ini sesuatu yang paling ditakuti oleh Rasulullah jika menimpa umatnya. Mari kita berdo’a minta pertolongan kepada Allah, mudah-mudahan hati kita selalu ikhlas dalam beramal, sehingga kita di terbebas dari sifat riya’. Sesungguhnya Allah Maha Mulia lagi Maha Pemberi.

Inilah Apa yang dapat saya sampaikan lewat pidato ini, ada kurang lebihnya saya sebagai manusia biasa mohon maaf yang sebanyak-banyaknya. Akhirnya, Billahitaufiq walhidayah  Waridha wal ‘inayah,Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir, S.Hum

Pidato Islami: Hijrah Menuju Mukmin Sejati

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Alhamdulillah wa syukrulillah wa sholatu wa sallamu ‘ala rasulillah sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mawwalah, amma ba’dah.

Yang terhormat ketua muhadharah

Para alim ulama yang saya taati 

Para Ustadz dan Ustadzah yang saya muliakan

Hadirin dan hadirat hadirin dan hadirat sekalian yang berbahagia.


Segala puji hanya milik Allah, yang telah menjadikan bulan Muharram sebagai bulan yang mulia bagi umat Muhammad, Dan menjadi bulan yang paling depan dalam kalender Islam. Saya bersaksi dengan sesungguhnya,  bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan salam kesejahteraan Kepada beliau, keluarga, dan sahabat-sahabat yang mulia. 

Selanjutnya saya haturkan banyak terima kasih kepada saudara pembawa acara, yang telah memberikan waktu kepada saya untuk berpidato dihadapan saudara-saudara sekalian. Pada kesempatan kali ini saya akan berbicara dengan mengambil tema: “Hijrah Menuju Mukmin Sejati”.

Hadirin yang berbahagia!

Marilah kita sambut kedatangan bulan Muharram ini dengan memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan nikmat-Nya kepada kita semua. Marilah kita gunakan anugerah kenikmatan itu pada jalan yang diridhai-Nya. Karena jika kita benar-benar mau bersyukur atas nikmat-Nya, maka Allah akan menambah nikmat itu. Sebagaimana tersebut dalam surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7).

Sebagai upaya meningkatkan iman dan takwa kepada Allah, maka melalui datangnya tahun baru Hijiriah ini kita menengok sejarah masa silam, masa perjuangan Nabi SAW dan para sahabat-sahabat beliau dalam menegakkan agama Allah. Sebagaimana diketahui dalam catatan sejarah, bahwa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau mengembangkan risalah Islam di Mekkah banyak menemui tantangan dan hambatan yang tidak ringan. Orang-orang Quraisy menentangnya, mereka melakukan penganiayaan terhadap sahabat-sahabat beliau dengan tujuan agar Nabi SAW menghentikan dakwahnya. Semakin hari kekejaman dan penganiayaan semakin keras, namun sungguh suatu keajaiban, semakin keras penindasan dan semakin keras penganiayaan, Islam pun semakin berkembang. Tidak satupun orang yang begitu masuk Islam lalu sudi keluar menjadi murtad, sekalipun mereka menerima perlakuan yang sangat kejam dan tidak manusiawi dari kaum kafir Quraisy.

Makin hari kekejaman itu semakin memuncak dan kemudian mencapai puncaknya, mereka sepakat untuk menangkap dan membunuh Nabi Muhammad SAW. Dalam keadaan genting itulah, Rasulullah mendapat perintah hijrah ke Madinah. Maka berhijralah beliau bersama para sahabat menuju kota Yatsrib, yang sekarang dikenal dengan Madinah.

Hadirin yang berbahagia!

Peristiwa hijrah ini menjadi tonggak perjuangan umat Islam untuk selanjutnya. Mereka tidak hanya dikagumi oleh kawan tapi juga disegani oleh lawan. Peristiwa hijrah akan tetap relefan atau cocok dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu sekarang ataupun yang akan datang. Nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah itu akan tetap cocok dijadikan rujukan kehidupan. Banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut. Diantaranya:

Pertama: Hijrah merupakan perjalanan mempertahankan keimanan. Karena iman, para sahabat sudi meninggalkan kampung halaman, meninggalkan harta benda mereka. Karena iman mereka rela berpisah dengan orang yang dicintainya yang berbeda akidah. Iman yang mereka pertahankan melahirkan ketenangan dan ketentraman batin. Kalau batin sudah terasa tentram dan terasa bahagia, maka bagaimanapun pedihnya penderitaan zhahir yang mereka alami tidak akan terasa. Itulah mengapa sebabnya para sahabat mau berjalan di gurun pasir yang panas. Mereka menempuh perjalanan dari Mekkah, menuju Madinah dengan bekal iman. Oleh karena itu, dalam memperingati tahun baru Hijiriah ini, marilah kita tanamkan keimanan dalam diri kita sebagaimana imannya para sahabat. Dan diwujudkan dalam bentuk amal-amal saleh dalam kehidupan ini. 

Para hadirin, iman akan membuat hidup seseorang jadi terarah. Kekuasaan dan kebebasan berpikir harus ada imbangannya. Allah tidak hanya menganugerahkan akal pada manusia, tapi juga hati. Kita memang butuh ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi itu bukan segala-galanya yang bisa menjamin kesejahteraan hidup. Tanpa bimbingan hati yang dibalut dengan keimanan, maka ilmu pengetahuan akan melahirkan orang-orang sombong dan melampaui batas. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang diimbangi dengan keimanan akan membuat manusia semakin sadar akan hakikat dirinya, sehingga timbul pengakuan sebagaimana tersebut dalam surah Ali Imran, ayat 191:

“Ya Tuhan kami, tiada sia-sia Engkau menciptakan ini.... “.  (QS. Ali Imran: 191).

Iman juga berfungsi untuk mengendalikan nafsu. Makhluk yang bernama malaikat Cuma dianugerahi akal saja tanpa nafsu. Karena itu, tidak ada malaikat yang mendurhakai perintah Allah SWT. Sebaliknya, binatang hanya diberi nafsu oleh Allah, sehingga wajar kalau tiap hari berbuat salah. Sedangkan manusia diberi kedua-duanya, akal sekaligus nafsu. Jika akal yang menguasai dirinya maka kebenaran akan menang dan meningkat ke derajat Malaikat. Namun kalau nafsu yang mengendalikan dirinya, maka sifat-sifat binatang yang menghiasi perilakunya. Sehingga ia turun derajat ke tataran binatang. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surat At-Tiin, ayat 4 dan 5:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya...”  (QS. At-Tiin: 4-5).

Hadirin dan hadirat yang berbahagia.

Sedang hikmah kedua, hijrah merupakan perjalanan ibadah. Pada waktu hijrah, dorongan para sahabat untuk ikut berhijrah tidak sama, oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, sebagai berikut:

“Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan bagi tiap orang apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya demi kepentingan dunianya atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dihijrahi”.  (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, semangat ibadah inilah yang harus menjiwai peringatan hijrah yang kita selenggarakan ini dalam rangka memasuki tahun baru Hijiriah.

Kemudian hikmah ketiga, hijrah adalah perjalanan ukhuwwah (persaudaraan). Para hadirin, kita bisa menyimak bersama bagaimana penduduk Madinah manyambut orang-orang Mekkah sebagai saudara. Kemudian mereka bergaul dalam suasana ukhuwwah yang berlandaskan satu keyakinan bahwa semua manusia berasal dari Nabi Adam as dan beliau diciptakan dari tanah. Maka bersatulah orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar sebagai saudara yang diikat oleh satu akidah. Dalam surat Al-Hujurat, ayat 10 Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. (QS. Al-Hujurat: 10).

Kaum Muhajirin dan Anshar ini, mandapat jaminan dari Allah akan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 100, sebagai berikut:

“Dan orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.  (QS. At-Taubah: 100).

Hadirin dan hadirat yang berbahagia.

Demikianlah sekelumit tentang hikmah Nabi SAW yang dapat saya sampaikan dalam pidato ini. Maka marilah dalam mamperingati tahun baru Hijiriah ini kita tanamkan semangat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Semangat ukhuwwah Islamiyah, bahwa orang mukmin yang satu dengan yang lain adalah saudara. Jika yang satu sakit, maka yang lain ikut merasakan pedih. Dan juga meningkatkan ibadah sebagai media untuk menjaga keseimbangan lahir dan batin. Semoga kita diberi kekuatan iman oleh Allah untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya sebagai wujud dari keimanan, sehingga dapat tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiin.

Demikian pidato yang saya sampaikan ada kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebanyak-bayaknya. Akhirul kalam.   

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir S.Hum

Pidato Islami: Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, arrahmanirrahim maliki yaumid din, wa shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin khatamin Nabiyyina wa imamil mursalin, wa ‘ala alihi thahiriina wa shahabatihi ajma’in, amma ba’du.


Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah

Yang terhormat Saudara protokol

Yang terhormat para pembicara

Yang berbahagia para hadirin sekalian.

Segala puji hanya milik Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta. Kita selalu memuji dan meMaha sucikan-Nya serta selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya. Kepada-Nya kita selalu minta pertolongan dan perlindungan dari kemurkaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak berserikat. Dan sesungguhnya Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Semoga Allah SWT melimpahkan shalawat dan salam-Nya Kepada beliau,  keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mendapat petunjuk.

Saudaraku yang berbahagia!

Pada kesempatan kali ini, saya akan berbicara dengan tema: “Berbakti Kepada Kedua Orang Tua”.

Sesungguhnya tiada orang yang begitu besar jasanya kepada kita sebagai anak, selain kedua orang tua. Karenanya, berbakti kepadanya menjadi sebuah keharusan bagi kita. Tidak ada orang yang berbuat maksiat kepada kedua orang tua kecuali orang yang berperangai buruk dan kasar. Sesungguhnya Allah SWT dan para rasul-Nya  serta para ulama dari sejak Nabi Adam as sampai saat ini, menekankan betapa pentingnya memperhatikan kedua orang tua, dan berbakti kepada keduanya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang menjelaskan tentang pentingnya berbakti kepada kedua orang tua dan akibat dari mendurhakainya.

Saudara-saudari sekalian yang berbahagia.

Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjadikan berbakti kepada kedua orang tua sebagai sesuatu yang harus dilakukan beriringan dengan pengesaan dan penyembahan kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu Jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. "  (QS. Al Isra’: 23).

Maka kewajiban bagi kita terhadap kedua orang tua, adalah bergaul dengan baik dan berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Dan larangan bagi kita, berkata kasar dan jorok terhadap kedua orang tua. Kenapa kita harus berbuat baik kepada kedua orang tua kita? Karena keduanya yang melahirkan, yang memelihara, dan yang mendidik kita dengan baik sejak kita masih kecil sampai dewasa. Ibu yang mengandung kita selama 9 bulan di dalam perutnya, kemudian menyusuinya selama 2 tahun dan memperhatikan serta menjaga kita dari berbagai penyakit, dia yang selalu mempersiapkan Setiap kali kita makan dan minum serta berjaga ketika kita tidur.

Bapak yang mencari nafkah dan rezeki yang halal, sejak Fajar menyingsing sampai terbenam matahari. Menghadapi panas dan cuaca dingin, menghadapi hujan dan terik matahari tanpa menghiraukan hujan yang membasahi tubuhnya dan panas yang membakar kulitnya.

Saudara-saudari sekalian yang berbahagia!

Lantas Bagaimana cara kita berbakti kepada kedua orang tua kita?Sementara kita kadang-kadang berada di kejauhan. Jawaban yang sederhana adalah, kita mengerjakan sebagaimana yang dinasehatkan oleh Luqman terhadap anak-anaknya yaitu: “Janganlah kamu menyekutukan Allah, karena sesungguhnya menyekutukan-Nya adalah dosa besar. "Dan yang dimaksud menyekutukan Allah di sini adalah dengan penuh keyakinan menyamakan Allah dengan yang lainnya.

Saudara yang berbahagia!

Jikalau kedua orang tua kita menyuruh kita berbuat syirik, maka kita tidak boleh mentaatinya, tetapi kita tetap diperintahkan mempergaulinya dengan baik dan lemah lembut. Dan termasuk Birrul Walidain, adalah jika kita selalu mengikuti jejak orang-orang yang taat kepada Allah SWT. Dengan mengerjakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kemudian mendirikan salat lima waktu dengan penuh ikhlas dan khusyu’. Mengerjakan Amar ma'ruf nahi mungkar. Yaitu menyuruh berbuat kebaikan, seperti kalau kita menyuruh teman kita berbuat sesuatu yang menguntungkan dirinya baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan mencegah kemungkaran adalah seperti kita melarang Terhadap teman kita yang sering berbuat dosa dan bermalas-malasan berbuat kebajikan, sering melanggar hukum, maka kita Ingatkan agar ia segera bertobat dan memperbaiki diri.

Disamping itu, kita harus sabar dalam menghadapi cobaan yang menimpa kita, karena Sabar adalah sesuatu yang agung. Dalam hidup ini kita tidak lepas dari berbagai problematika sedang orang yang sabar menghadapi musibah tentu akan beruntung. Dari itu jika kita bertemu dengan teman, kita ucapkan salam, kita berteman dengan baik dan berakhlak mulia, kita hindarkan ucapan dan perilaku yang jelek. Dan ketika kita berjalan hendaklah tidak berlagak angkuh dan menyombongkan diri.

Saudara dan Saudari yang dirahmati Allah!

Jika perilaku kita sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Luqman terhadap anak-anaknya, Maka insya Allah kita akan menjadi anak yang saleh dan kedua orangtua kita akan gembira dan bahagia. Hal ini sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pendidikan dan pengajaran di sekolah kita yaitu membentuk anak yang sholeh, berilmu dan ikhlas beramal. Demikian ceramah pidato saya mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekhilafannya. 

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir, S.Hum

Pidato Islami: Perjuangan Hidup

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, arrahmanirrahim maliki yaumid din, wa shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin khatamin Nabiyyina wa imamil mursalin, wa ‘ala alihi thahiriina wa shahabatihi ajma’in, amma ba’du.

Yang terhormat pembawa acara
Yang terhormat para pembicara
Dan saudara-saudari sekalian.


Pertama, marilah kita panjatkan rasa syukur kehadirat Allah swt segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dia yang telah memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita semua, sehinga kita dapat menghadiri  pertemuan di tempat ini.

Kedua kalinya shalawat  dan salam mudah-mudahan tetap atas junjungan kita Nabi Muhammad saw yang telah menunjukkan jiwa kita dari sifat yang tercela menuju sifat yang baik, dan yang telah mengeluarkan kita dari kegelapan kekafiran, menuju cahaya yang terang benderang, yaitu agama Islam.

Ketiga kalinya, tak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada saudara protokol, yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pidato di hadapan saudara-saudara sekalian. Saya berdiri di hadapan hadirin sekalian akan menyampaikan pidato dengan tema: "PERJUANGAN HIDUP".

"Dari Abdullah bin Mas'ud ra. ia bertanya: 'Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?' Nabi menjawab: 'Shalat tepat waktu.' Lalu aku (Ibnu Mas'ud  bertanya: "Kemudian amal apa lagi?' Beliau menjawab: 

“Berbakti kepada kedua ibu bapak.’ Aku bertanya lagi: selanjutnya apa lagi?’ Beliau menjawab: Jihad di jalan Allah.”

Menurut hadis ini, kita sebagai orang Islam harus menjalankan tiga pekerjaan  yang paling disenangi oleh Allah, yaitu: Shalat tepat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan berjuang di jalan Allah.

Kita sebagai ciptaan Allah, harus mengabdikan diri kepada-Nya, dengan  cara menjalankan shalat tepat pada waktunya, dan mengerjakan semua kewajiban kita yang telah ditetapkan oleh Allah.  Islam melarang kepada umatnya bermalas-malasan, tidak mau bekerja, dan hanya menantikan   keajaiban yang datang dari langit. Tetapi Islam mengajarkan kepada kita giat berusaha untuk memenuhi kebutuhan kita untuk mencari ridha Allah. Allah akan memberikan pertolongan kepada  kita, jika kita mau menjalankan semua perintah-Nya, seperti shalat dan mengerjakan kewajiban-kewajiban yang lain.

Di samping melakukan shalat tepat waktu, kita wajib taat kepada kedua orang tua. Nabi Muhammad saw bersabda: "Keridhaan Allah tergantung keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung kemurkaan kedua orang tua.”

Menurut hadis ini, kita wajib taat kepada  kedua orang tua kita apabila mereka menyuruh kita untuk melakukan sesuatu, asalkan tidak pada kemaksiatan. Sebab  merekalah yang  mendidik kita sejak kecil hingga kita dewasa.

Ibu yang telah melahirkan kita di dunia ini, dan bapak yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk biaya sekolah dan kebutuhan kita setiap hari. Kita dapat belajar di sekolah, kita mendapat berbagai macam ilmu pengetahuan dan dicukupi segalakebutuhan hidup kita. Karena itu, tentu saja kita harus taat kepadanya, asalkan tidak untuk berbuat maksiat kepada Allah.

Akhirnya, kita harus berjuang dalam hidup kita. Karena dengan perjuangan, kita akan mendapatkan keberuntungan. Orang yang tidak berjuang dalam hidupnya bagaikan orang mati. Oleh karera itu, marilah kita berjuang di mana dan kapan saja demi agama kita, untuk sekolahan, dan untuk negara kita tercinta dengan disertai mengharap rahmat dan ridha dari Allah yang Maha Kuasa.

Demikian apa yang bisa saya sampaikan lewat pidato singkat ini, apabila ada kurang lebihnya, kesalahan dan kekurangannya, sebagai manusia biasa, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhirnya,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh :
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir, S.Hum
 

Pidato Islami: Tantangan Islam

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Alhamdulillah wa syukrulillah wa sholatu wa sallamu ‘ala rasulillah sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mawwalah, amma ba’dah.

Yang terhormat dewan guru
Yang terhormat pembawa acara
Hadirin dan hadirat yang saya cintai.

Sebelum saya berbicara banyak di hadapan saudara sekalian, pertama-tama, marilah kita memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat bertemu ditempat yang megah ini tanpa halangan suatu apapun.


Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap atas junjungan Nabi kita yang agung Muhammad saw yang  telah membebaskan kita dari belenggu kegelapan kejahiliyaan menuju suasana yang penuh cahaya Ilahi. Sehingga kita dapat membedakan antara yang benar dan yang batil.

Selanjutnya tak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada saudara protokol yang telah memberi  kesempatan kepada saya untuk berbicra di hadapan saudara-saudara sekalian. Pada kesempatan   ini, saya akan berbicara dengan mengambil tema: "TANTANGAN ISLAM.”

Saudara sekalian yang dirahmati Allah.

Kita tahu berbagai statemen, dari media elektronik baik dari radio, televisi, surat kabar, tentang berbagai macam tantangan Islam, Kenapa masyarakat Islam selalu ketinggalan saat ini? Baik dari segi ekonomi, politik, sains dan teknologi.

Sesungguhnya orang Islam pernah mengalami kemajuan, ketika itu mereka bersatu sehingga dapat membawa Agama Islam maju dalam kurun waktu sekitar 7 abad. Kenapa sekarang masyarakat Islam tidak dapat bersatu? Kalau dahulu orang Islam dapat mengembangkan pendidikan Islam, dan dapat menjalin persudaraan Islam, kenapa  sekarang kita tidak bisa? Untuk  membangkitkan semangat,  kita bisa membandingkan sumber daya Islam tempo dulu denga yang ada pada saat ini. Kita akan tahu bahwa sumber daya Islam waktu itu sungguh luar biasa, sehingga dapat mencapai kejayaan dan zaman keemasan.

Saudaraku seiman dan seagama.

Kita harus sadar, bahwa untuk memajukan agama, kita harus siap menghadapi berbagai macam tantangan, jika tidak kita akan tergilas dan tertingal. Kita harus rnengajarkan semua pendidikan Islam, dan membawa Islam kemanapun, sekalipun ke luar negara Islam.Kita dituntut untuk dapat memberikan pemahaman tentang Islam secara benar dan kaaffah (total). Untuk merealisasikan ide ini perlu diadakan konsolidasi lewat organisasi, seperti organisasi kepemudaan dan lainya, dengan mengenalkan simbol-simbol Islam contohnya kalimat Insyaa Allah, Masya Allah, Alhamdulillah, Assalaamu'alaikum, Allahu Akbar dan lain sebagainya. Memberikan semangat jihad Islam terhadap kaum muslimin, serta mengembangkan pengajaran Islam dalam setiap sektor kehidupan.

Jika kita merealisasikan beberapa teori tersebut di atas, tidak menutup kemungkinan kita akan menghadapi berbagai ancaman dan tantangan, seperti komunisme, kapitalisme, dan sekulerisme.
Kaum muslimin yang berbahagia.

Tidak perlu khawatir dan risau, tinggalkan kamar tidurmu, singsingkan lengan bajumu, untuk mengembangkan pengajaran Islam, aktivitas keislaman lainnya. Kita harus tahu bahwa perkembangan Islam berada di tangan kita sebagai kaum muslim.

Nabi saw besabda: "Islam adalah tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya."

Lslam memang merupakan agama yang tinggi dan yang diridhai oleh Allah. Pada masa periode Nabi Muhammad saw dalam perkembangan pesat, karena beliau mengajarkan Islam dengan serius dan selalu mengamalkan ajaran Islam dengan sempurna. 

Untuk menjunjung  tinggi  Agama Islam dapat dilakukan dengan memajukan sistem pengajaran Islam, dan ceramah Islam dalam berbagai sektor kehidupan dan tetap menjaga kemurnian Islam, menghadang berbagai ancaman yang akan menghancurkan Islam.

Yakinlah saudara-saudari sekalian, jika ada orang yang mau menghilangkan Islam, dia tidak akan pernah bisa, karena Islam adalah agama yang paling benar di sisi Allah dan yang diridhai­Nya. Akhirnya mari kita berdoa kepada Allah Yang Maha kuasa, mudah-mudahan kita dapat melaksanakan ajaran Islam secara benar dan konsiten demi kejayaan Islam dan kaum muslimin. 

Akhirul  kalam, Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Oleh
Drs. Moh. Syamsi Hasan
Drs. Moh. Amer Nasihin
Moh. Toha Munir, S.Hum
Back To Top